Urang Banten: Masyarakat, Sejarah, dan Kebudayaannya

Latar Belakang Sejarah dan Kondisi Banten dan Dasar Penulisan Buku
Dalam konteks perjalanan panjang Indonesia sebagai negara dan bangsa, Banten dikenal dengan orientasi keislaman masyarakatnya, dinamika kesultanannya, sejarah panjang mistisisme dan perlawanannya, dan keragaman etnis, bahasa, serta tradisinya. Setelah mewarisi tradisi perlawanan besar terhadap kekuatan asing, tradisi panjang perjuangan di Banten dapat ditelusuri hingga ke abad ke-16. Bersamaan dengan perlawanan terhadap kekuatan asing, Banten juga memiliki tradisi mapan sebagai pusat berbagai ilmu esoteris. Setelah Banten jatuh ke tangan Belanda, tiga bentuk kepemimpinan informal muncul dalam masyarakat Banten. Yang pertama adalah aristokrasi tradisional. Yang lainnya adalah ulama dan jawara (orang kuat lokal). Dari ketiganya, dua yang terakhir masih ada di masyarakat saat ini. Bahkan, mereka menjadi elemen penting dalam masyarakat Banten, tidak hanya selama periode kolonial, tetapi juga setelah kemerdekaan Indonesia, hingga hari ini (Pribadi 2008).
Menurut Sajarah Banten, Maulana Hasanuddin, pendiri kesultanan Banten, mengkonversi 800 pendeta Hindu menjadi Muslim, yang para pemimpinnya telah menghilang di kaki Gunung Pulosari, Pandeglang. Kepercayaan ini menyebar dan segera setelah itu ia menjadi persepsi penting tentang personifikasi Maulana Hasanuddin yang suci. Kronik tersebut menekankan bahwa Maulana Hasanuddin adalah seorang wali yang juga mengubah kepercayaan penduduk lokal dari Hindu dan beragam kepercayaan lokal menjadi Islam (Pudjiastuti 2000).

Tempat-tempat keagamaan, seperti Masjid Kasunyatan, memainkan peran penting dalam kehidupan beragama, dan berfungsi sebagai sarana untuk menunjukkan kekayaan, kekuasaan, dan pengabdian sultan kepada Islam. Selain itu, Islam juga berfungsi sebagai kekuatan ideologis dalam sistem politik kesultanan. Syariah (hukum Islam) dipraktikkan hanya di wilayah terbatas, dan hanya ketika tidak bertentangan dengan kepentingan keraton. Ritual keraton menekankan bahwa sultan adalah perwakilan sah Tuhan di bumi. Selain itu, beberapa sarjana Belanda, di antaranya Snouck Hurgronje, de Graaf, Pigeaud, dan Drewes, telah menekankan reputasi Banten sebagai wilayah Muslim pada abad ke-19 dan ke-20 yang berakar dari tradisi di kesultanan (Atsushi 2006).

Mengenai kebangkitan agama di Banten pada abad ke-19, Sartono Kartodirdjo (1966) menginvestigasinya secara mendalam, yang akhirnya memberi kita penjelasan yang jelas tentang latar belakang keagamaan dari banyak perlawanan di Banten. Menurutnya, bagian akhir abad ke-19 adalah periode kebangkitan agama yang mendorong gerakan-gerakan di Banten. Meningkatnya aktivitas keagamaan bukan hanya karena kondisi bahwa orang Banten adalah Muslim yang saleh, tetapi juga karena fakta bahwa ada gangguan ketertiban tradisional dan, secara bersamaan, menimbulkan keresahan sosial. Selain itu, di satu sisi banyak orang mengalami perampasan hak-hak politik dan di sisi lain mengalami reafirmasi sosial. Oleh karena itu, kebangkitan agama di Banten dapat diidentifikasi sebagai gerakan agama-politik yang mengakomodasi berbagai ketegangan sosial. Namun, kebangkitan agama menjadi cara merekrut orang untuk perlawanan, bukan sebagai gerakan keagamaan murni. Hal tersebut sangat tepat, terutama jika kita melihat lebih dekat pada kenyataan bahwa di Banten pada abad ke-19 kebangkitan agama dan jenis-jenis gerakan sosial lainnya memiliki titik-titik kemiripan yang menonjol, khususnya dalam seruan mileniarisme pada basis kelas bawah masyarakat.

Namun demikian, pemberontakan-pemberontakan di Banten dapat dianggap sebagai gerakan keagamaan, karena lembaga keagamaan, seperti tarekat dan juga masyarakat, memainkan beberapa bagian penting dalam gerakan-gerakan tersebut (Pribadi 2008). Pemicu yang kuat mungkin dapat diidentifikasi sebagai kebencian terhadap dominasi Belanda dan permusuhan yang kuat terhadap orang asing yang juga menemukan jalan keluar dalam kesetiaan dengan gerakan keagamaan ekstrim (Kartodirdjo 1966). Jika kita melihat Jawa sebagai contoh umum, kita mengetahui bahwa bagi orang Jawa, penguasa mereka jauh lebih dari sekadar raja suci atau pembela Islam. Sultan dianggap sebagai satu-satunya penghubung antara manusia dan kosmos dan dengan demikian penting untuk menjaga keharmonisan antara alam surga dan terestrial. Karena itu, orang Belanda yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda tidak dianggap sebagai pengganti yang tepat. Mereka menunjukkan sedikit kecenderungan untuk mendukung Islam. Kenyataannya, kemajuan kekuasaan Belanda mengancam kemungkinan pemisahan otoritas keagamaan dan politik yang sakral dan yang sekuler (Moertono 1981).

Kondisi-kondisi di atas tentang Banten secara terpisah digambarkan oleh beberapa penulis dalam beragam publikasi, mulai dari buku, artikel jurnal, karya ilmiah di universitas, dan karya-karya populer, seperti opini di media massa dan blog. Namun, buku akademik-ilmiah serius yang membahas beragam fenomena, aspek, kondisi, dan tokoh serta organisasi dalam sebuah bunga rampai belum pernah ada. Buku sejenis seperti buku yang berjudul Banten dalam Ragam Perspektif (ICMI Orwil Banten 2020) memang pernah terbit. Tetapi, buku tersebut masih sebatas berisi opini populer dari para penulisnya, dan kurang tepat jika diidentifikasi sebagai buku akademik-ilmiah. Oleh karena itu, rencana penulisan dan penerbitan buku Banten: Masyarakat, Sejarah, dan Kebudayaannya ini menjadi sangat krusial mengingat kelangkaan buku-buku bunga rampai serius tentang Banten.

Penulisan buku Banten: Masyarakat, Sejarah, dan Kebudayaannya bertujuan untuk berkontribusi secara akademik-ilmiah dalam diskusi dan perdebatan mengenai masyarakat, sejarah, dan kebudayaan Banten. Selain itu, buku ini juga diharapkan dapat menjadi sumbangsih penting UIN Sultan Maulana Hasanuddin sebagai perguruan tinggi terkemuka di Banten dalam memberikan pandangannya mengenai Banten kepada warga Banten, Indonesia, dan dunia yang lebih luas. Terakhir, buku ini dapat menjadi warisan intelektual UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bagi civitas akademikanya di masa yang akan datang.

Buku ini bersisi 11 bab dengan rincian sebagai berikut:

  1. Pendahuluan: Islam dan Kesultanan sebagai Penanda Masyarakat, Sejarah, dan Kebudayaan Banten, Yanwar Pribadi
  2. Kondisi Geografi dan Sejarah Banten, Moh Ali Fadilah
  3. Kesultanan Banten: Suatu Peristiwa, Adieyatna Fajri
  4. Etnis di Banten : Beragam Varian, Helmi Faizi Bahrul Ulumi
  5. Masyarakat Adat dan Baduy, Ade Jaya Suryani
  6. Bahasa Sunda dan Jawa Banten, Uyu Muawanah
  7. Kiyai, Pesantren, dan Tasawuf, Ade Fakih Kurniawan
  8. Jawara dan Tradisi Magi, Hudaeri
  9. Perempuan Banten, Umdatul Hasanah
  10. Tokoh Berpengaruh: Nawawi al-Bantani dan Hoesein Djajadiningrat, Aspandi
  11. Organisasi Modern: Mathla’ul Anwar dan Al-Khairiyah, Maftuh Ajmain
  12. Kesenian Banten, Rohendi
  13. Penutup: Proyeksi Banten di Masa Depan, Yanwar Pribadi

Number of pages: xi+260
cover desaigner: Ade Jaya Suryani
Layouter: Ade Jaya Suryani
Publisher: UIN Banten Press
Year of publication: 2023